AKHLAK DALAM TAKARAN ISLAM

Selain akidah dan ibadah, akhlak menempati kedudukan yang tinggi dalam Islam. Ajaran Islam tidak bisa dilepaskan dari peran akhlak. Islam dan akhlak adalah satu kesatuan. Bahkan, Rasulullah SAW diutus Allah SWT kepada manusia, selain membimbing akidah umat juga untuk memperbaiki akhlak manusia.

Sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Malik menerangkan akan tugas utama Rasulullah SAW diutus kepada manusia. “Sesungguhnya Aku diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak.” Keseriusan Islam memperbaiki akhlak manusia tergambar jelas saat pertama kali Rasulullah SAW menyampaikan Islam kepada bangsa Arab. Di awal dakwah, Muhammad SAW menyampaikan Islam kepada umat secara pelan-pelan, namun pasti. Beliau mengedepankan akhlak Islam yang tinggi, ketimbang ketentuan Islam lainnya.

Karena ketinggian akhlak Rasulullah SAW itu, tidak sedikit masyarakat dan tokoh kafir Quraisy tersentuh dan akhirnya memeluk agama Islam. Islam membimbing manusia menjadi manusia yang tegas, berakhlakul karimah, dan tegas dalam bersikap.

Umar bin Khattab adalah salah satu contoh tentang peran Islam membentuk akhlak mulia. Sebelum masuk Islam, Umar dikenal sebagai tokoh kafir yang bengis dan tidak beradab. Karena malu memiliki anak perempuan, Umar pernah membunuh anak perempuannya ketika masih bayi.

Ia juga mengibarkan sikap permusuhan kepada Rasulullah SAW dan agama yang dibawanya. Sering kali, ia menghujat dan mencemooj Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Bahkan, Umar pernah berkali-kali ingin membunuh Rasulullah SAW. Tapi usahanya selalu menemui kegagalan. Allah SWT masih melindungi Nabi dan RasulNya.

Namun akhlak umar berubah 180 derajat ketika Islam telah masuk ke dalam hatinya. Ia menjadi sosok yang berakhlak tinggi. Sejak masuk Islam, sifat dasar umar yang tadinya bengis berubah menjadi sosok yang halus, lembut namun tetap tegas dalam bersikap.

Ketinggian akhlak Islam terus ditunjukkan Umar saat ia menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar Ash Shiddiq. Ia memimpin kaum muslimin dengan akhlakul karimah yang tinggi.

Pos ini dipublikasikan di Akhlaq dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s